Minggu, 08 Maret 2015

Menikah Bukan Karena Sudah Terlanjur

                Menikah bukan karena sudah terlanjur, sehingga “diperintah oleh bayi di perut. Orang Tionghoa kalau menikah selalu menulis di dalam iklan atau pengumuman di surat kabar: “Demi perintah orang tua, kami akan menah pada tanggal...”. Tetapi itu zaman dulu. Dulu orang menikah atas perintah orang tua, tetapi orang zaman sekarang menikah atas perintah anak-anak kecil. Sudah terlanjur, akhirnya hamil. Maka sekarang anak bayi itu memerintah untuk cepat-cepat menikah, supaya tidak malu. Sudah hamil baru menikah, itu berarti demi anakku yang diperut. Berapa banyak orang yang menikah karena sudah terlanjur. Pernikahan tidak seharusnya didasarkan pada keadaan seperti itu.


(Pdt. Dr. Stephen Tong: Keluarga Bahagia)

Sabtu, 07 Maret 2015

Menikah Bukan Karena Papah dan Mama Perlu Cucu

                “Cepatlah menikah, saya sudah tidak tahan ingin gendong cucu.” Baru beberapa hari yang lalu seorang berkata kepada saya, bahwa ia ingin sekali anak-anaknya cepat menikah tetapi belum ada yang nikah, ia ingin sekali. Ia merasa tidak enak lihat anak orang lain sudah menikah dan anak sendiri belum menikah. Sabar! Daripada salah nikah, lebih baik menunda nikah. Bukan demi untuk melayani orang tua yang sedemikian ingin menggendong cucu, maka cepat-cepat menikah. Setiap orang yang mau menikah harus mempunyai pengertian makna nikah yang dikaitkan dengan rencana Allah, sehingga dapat menguasai emosi dan nafsunya sendiri, kalau tidak Saudara tidak berhak untuk menikah.


(Pdt. Dr. Stephen Tong: Keluarga Bahagia)

Menikah Bukan Karena Usia Sudah Sampai

                Berapa banyak orang tua berkata: “Kamu sudah umur 30 masih makan nasi disini, apa tidak malu? Cepatlah “menikah.” Ini membuat orang sulit makan nasi. Tidak! Kita menikah bukan karena umurnya sudah sampai. Kapan usia itu sampai? Ini sangat relatif. Orang Mongolia pada usia 15 tahun bisa sudah menjadi  nenek, ada yang umur 8 tahun sudah matang, dan bisa melahirkan anak. Itu di Mongolia. Jika kita menikah hanya karena usia sudah sampai, itu berarti melayani sejarah dan tidak mungkin mengubah sejarah. Manusia tidak seharusnya melayani sejarah. “Waktu mendesak saya untuk menikah, lalu saya cepat-cepat menikah”, itu sifat binatang bukan manusia.


(Pdt. Dr. Stephen Tong: Keluarga bahagia)

Jumat, 06 Maret 2015

Gejala Suara Setan: Mangajar Untuk Tidak Mengakui Dosa

                Suara Setan membuat kita tidak mau mengakui dosa. Setelah kita berbuat dosa, Setan akan mengajarkan kepada kita bahwa berbuat dosa itu lumrah, tidak ada apa-apa, banyak orang yang juga melakukan, bukan hanya kita seorang diri saja.
                Ketika kita sedang susah, Setan memberikan perasaan kesepian kepada kita, tetapi ketika berbuat dosa, Setan memberikan perasaan masal kepada kita. Kita seolah-olah disadarkan bahwa kita tidak seorang diri saja. Inilah ilmu psikologi dari Setan. Ketika kita susah, Setan mengajarkan kita sebagai orang yang paling susah di seluruh dunia. Lalu Setan mengajarkan, daripada terlalu susah, lebih baik bunuh diri saja. Tetapi ketika kita sedang berbuat dosa, Setan selalu membisikan bahwa kita tidak seorang diri. Yang berbuat dosa seperti kita banyak, sehingga kita termasuk mayoritas. Lalu, kita mulai mencari tahu, dan akhirnya banyak informasi diberikan, ada pendeta yang homoseks, ada majelis yang lesbian, dan dapat berteriak “Puji Tuhan, saya tidak kesepian, banyak memiliki teman”.
                Suara Setan secara keseluruhan mengakibatkan hidup kita akan semakin mirip dengan dia, yang najis, tidak suci, jauh dari Tuhan, menghina firman dan mencela, menghina, mengejek Kristus di kayu salib, serta menghindarkan diri dari kekudusan Roh sambil dengan berani memakai nama Roh Kudus.


(Pdt. Dr. Stephen Tong: Roh Kudus, Suara Hati Nurani dan Setan)

Gejala Suara Setan: Berusaha Mengeraskan Hati Seseorang

                Suara Setan dapat diketahui ketika suara itu mendorong kita untuk berani terus-menerus melakukan kejahatan. Di sini suara itu berusaha untuk mengeraskan hati kita. Setiap kali datang teguran agar jangan berbuat dosa, maka di dalam hati muncul satu suara untuk mempertahankan diri dan menolak semua teguran itu. Kemudian kita menjadi tidak peduli dengan semua teguran, menganggap bahwa itu semua hanyalah gangguan bagi kita, dan kita merasa apa yang kita lakukan itu sangat menyenangkan, dan pada akhirnya kita mengkonfirmasikan untuk terus melakukanya. Semua bisikan yang mengajar kita mengeraskan hati demikian pasti datang dari suara Setan.
                Jangan kita lupa, ketika terjadi konflik di dalam diri kita, di mana suara Tuhan dan suara Setan silih berganti berbicara dalam hati kita, hati nurani harus memilih. Maka ketika kita memutuskan untuk mengikuti suara Setan, ia langsung akan menguasai kita dan menjadi raja dalam hidup kita. Pada saat itu, kita sudah tidak memiliki kesempatan untuk kembali kepda kebebasan yang semula kita miliki Keadaan seperti ini sangatlah berbahaya.


(Pdt. Dr, Stephen Tong: Roh Kudus, Suara Hati Nurani dan Setan)

Gejala Suara Setan: Menuduh Dosa Masa Lalu (2)

                Setelah orang Kristen berbuat dosa, maka Setan akan membuka topengnya dan ia bertindak menghakimi.  Di sinilah perbedaan penting antara suara Setan dan suara hati nurani.

                Suara hati nurani memberikan peringatan keras sebelum kita berbuat dosa, setelah kita berbuat dosa maka ia akan menghakimi dengan sedih. Berbeda dengan suara Setan, sebelum berbuat dosa ia akan merayu dengan janji-janji palsu, dengan senyuman dan perkataan yang manis, tetapi setelah kita berbuat dosa, ia bukannya sedih, ia akan menggugat kita dihadapan Tuhan Allah.


(Pdt. Dr. Stephen Tong: Roh Kudus, Suara Hati Nurani dan Setan)

Gejala Suara Setan: Menuduh Dosa Masa Lalu (1)

                Maka sesudah Setan merayu kita berbuat dosa, maka kini suara itu berubah menjadi suara yang menuduh kita. Maka kita dibuat sulit, terlebih lagi bila kita adalah seorang Kristen. Dalam aspek ini, orang Kristen akan mengalami keadaan yang lebih sulit dibandingkan dengan orang lain, karena orang belum Kristen kalau selesai berbuat dosa, Setan mungkin menghibur dia atau tinggal diam saja.

                Jangan kita menyangka Setan bodoh, ia sangat pandai. Setelah kita berbuat dosa, maka ia  mulai menuduh kita. Tidak ada lagi pengampunan. Ia mulai menakuti kita dengan perkataan: “Sekarang engkau sudah berdosa, sudah menghujat Roh Kudus dan tidak mungkin diampuni lagi.

(Pdt. Dr. Stephen Tong: Roh Kudus, Suara Hati Nurani dan Setan)