Pertama, Waktu adalah hidup; berapa panjang hidup kita itulah seberapa panjang waktu kita; selesai hidup kita selesai pula waktu kita; berhentinya eksistensi kita ditentukan berhentinya waktu yang ada pada kita. Kalau kita benar-benar mencintai diri kita sendiri, cintailah waktu yang ada pada hidup kita sendiri; apa yang dapat kita kerjakan sekarang, jangan tunda sampai besok; apa yang bisa kita pelajari di masa muda, jangan sampai tua. Berapa banyak orang yang menyesali hidupnya; mengeluh karena tidak mungkin memutar kembali (mengembalikan) sejarah atau waktu yang sudah lewat. Penyesalan merupakan suatu kesedihan yang perlu kita prihatinkan, tetapi kita tidak mempunyai daya apa-apa untuk menolong , karena penyesalan berarti mengakui ketidakberdayaan diri kita yang berada di dalam keterbatasan. Agar hidup kita tidak penuh penyesalan, kita harus cepat-cepat mengerjakan apa yang Tuhan inginkan kita kerjakan sekarang.
(diambil dari buku "Waktu dan Hikmat" - Pdt. Dr. Stephen Tong)
Kamis, 04 April 2013
Selasa, 02 April 2013
Bagaimana Menghitung Hari-hari Kita? (4)
Keempat, membagi-bagikan waktu. Ini berarti kita harus secepatnya memberikan atau membagi-bagikan kepada lebih banyak orang segala sesuatu yang kita miliki. Jikalau kita memiliki sesuatu dan kita memonopolinya hanya untuk diri kita pribadi, maka kita akan mati dan apa yang kita miliki itu akan dikuburkan bersama diri kita. Tetapi jikalau kita rela membagi-bagikannya kepada orang lain, sehingga orang lain juga mendapatkanya, maka lebih banyak orang di dunia ini mendapatkan manfaatnya atau berkat dari Tuhan.
(diambil dari buku "Waktu dan Hikmat" - Pdt. Dr. Stephen Tong)
Senin, 01 April 2013
Bagaimana Menghitung Hari-hari kita? (3)
Cara menghitung kali.
Bagaimana kita menghitung atau menggunakan waktu dengan cara kali? Dengan
melakukan lebih dari satu pekerjaan dalam waktu yang bersamaan. Dr. Lie Sen
Chang. seorang profesional teologi dari sebuah sekolah teologi di boston
memberi kesaksian, bahwa setiap pagi sambil berolah-raga selama kira-kira
setengah jam dia mendoakan kira-kira 70 orang. Inilah cara menggunakan waktu
dengan sistem kali. Orang bijaksana yang sudah terlatih dapat melakukan hal
seperti ini. Kita dapat melatih diri bagaimana dalam waktu yang terbatas bisa
mengerjakan pekerjaan yang lebih banyak. Mary Slassor, seorang wanita utusan
misi yang dikirim ke Afrika, setelah meninggal dunia harus digantikan tiga
orang laki-laki untuk meneruskan pekerjaannya. Ia tahu bagaimana menggunakan
waktu; dia bisa menggunakan hidupnya yang singkat, beberapa puluh tahun, untuk
melakukan banyak hal, bagaimana dalam waktu singkat uangnya bisa berlipat
ganda, Tetapi, kita perlu memikirkan hal lain disamping uang; bagaimana kita
meningkatkan hidup, menegakan karakter dan kepribadian, serta menumbuhkan
kerohaniaan dan iman kita dengan cara mengalikan waktu kita. Kita bisa
melipatgandakan penggunaan waktu kita yang terbatas; bagaimana memakai waktu
yang sedikit untuk mencapai hasil yang terbesar, yang bernilai kekal. Jangan
kita membuang waktu, kesempatan, dan segala sesuatu yang sudah Tuhan berikan
kepada kita! kita harus bertanggung jawab melipatgandakan segala kemampuan,
sehingga tidak menyia-nyiakan waktu dan anugerah Tuhan.
(diambil dari buku
"Waktu dan Hikmat" - Pdt. Dr. Stephen Tong)
Bagaimana Menghitung Hari-hari kita? (2)
Cara menghitung kurang. Orang
bijaksana bukan saja memikirkan hidupnya bertambah, tetapi lebih memikirkan
setiap tahun hidupnya sudah berkurang satu tahun. Ibu saya pada malam hari
sering menyanyikan sebuah lagu, "Hidup sudah berkurang satu hari,
kewajibanku sudah berkurang satu hari" Hidupnya setiap hari dianggap sebagai kesempatan menjalankan kewajiban,
membimbing anak-anaknya di dalam jalan Tuhan. Pada waktu berjumpa dengan Tuhan
dia pun merasa lega, karena dia sudah menjalankan kewajibannya dengan
bertanggung jawab kepada Tuhan. Setiap tahun kita mengganti kalender berarti
kita sudah lebih dekat ke kubur satu tahun. Setiap hari kita merobek
penanggalan kita, berarti hidup kita sudah berkurang satu hari. Dengan pikiran demikian, kurang kita akan menjadi
orang yang bijaksana.
(diambil
dari buku "Waktu dan Hikmat" - Pdt. Dr. Stephen Tong)
Bagaimana Menghitung Hari-hari Kita (1)
Ada empat cara menghitung waktu sesuai dengan
metematika. Pertama, cara tambah. ini adalah cara menghitung waktu dari
orang-orang yang tidak suka berpikir, yang tidak berpengetahuan, dan yang tidak
bijaksana. Anak-anak kecil biasanya mempunyai cara ini. Misalnya, waktu tahun
baru atau hari ulang tahunnya. seorang anak kecil merasa senang karena umurnya
bertambah, karena merasa sudah lebih besar. Tetapi orang tua biasanya tidak
senang melewati tahun baru atau ulang tahunnya, karena mereka tidak suka
memikirkan kapan mereka akan mati, malah banyak yang merasa takut, karena
mengetahui sudah lebih dekat kepada hari kematiaanya. Celakalah kita jikalau
setiap hari umur kita bertambah, tetapi tanpa isi atau makna yang ditambahkan
kedalam hidup kita. Hari-hari hidup kita akan terus bertambah, tetapi biarlah
juga kebijaksanaan, moral, dan iman kita pun bertambah, menjadi arti atau makna
di dalam hidup kita. Ada orang yang umurnya panjang sekali, tetapi hidupnya
kosong. Di antara pemimpin-pemimpin agama seperti Musa, Abraham, Budha, Yesus
Kristus, Mohammad; dan diantara filsuf-filsuf besar seperti Plato, Sokrates,
dan Aristoteles, yang paling berumur pendek adalah Yesus Kristus; Dia mati pada
umur kira-kira 33 1/2 tahun. Tetapi hidup manusia tidak bergantung pada panjang
pendeknya umur, yang penting adalah bobotnya.
(diambil dari buku
"Waktu dan Hikmat" - Pdt. Dr. Stephen Tong)
Orang Yang Suka Marah (2)
Marah hanya bisa membereskan
diri sendiri tapi tidak bisa membereskan orang lain. Seorang guru yang agung
adalah guru yang tidak gampang marah. Seorang ayah yang berhasil dalam mendidik
anak tahu kapan dia harus marah dan kapan dia tidak perlu marah. Banyak orang
yang tidak mengerti akan prinsip ini gampang diperbudak emosinya sendiri. Kalau
dia sudah tidak tahan, maka dia meledakkan amarahnya dan merasa lega. Akhirnya
amarah itu hanya menyelesaikan diri sendiri, tidak menyelesaikan orang
lain.Kalau seseorang sudah marah, anaknya dipukul setengah mati, benda-benda
dirusak. Semua dianggap salah, hanya dirinya yang tidak salah. Akibatnya, bukan
saja sang anak tidak memperoleh didikan, ia malah belajar memakai cara yang
sama jika sudah besar.
Jadi yang perlu adalah
belajar, marah tidak berguna. Marah hanya menyelesaikan kerisauan yang ada di dalam
dirimu lalu melemparkannya kepada orang lain. Janganlah marah kecuali marahmu
adalah amarah yang berada di dalam pengudusan Roh Kudus, bagi kemuliaan Tuhan
Allah.
Orang Yang Suka Marah (1)
Marah tidak pernah menjadikan
dirimu stabil. Tuhan kita adalah Tuhan yang tidak gampang marah. kalau Tuhan
kita marah, adalah marah yang sesuai dengan keadilan yang tidak mungkin
bersalah. Itu yang disebut kemarahan ilahi, kemarahan yang kudus. Holy wrath of
God, the wrath of God according to the truth, the wrath of God is based on His
righteousness and His holy wrath. Kemarahan Tuhan adalah kemarahan yang suci,
kemarahan yang wajar, kemarahan yang adil. Tetapi Dia tidak mudah memuntahkan
kemarahan-Nya. Mempelajari filsafat marah adalah hal yang penting sekali.
Allah adalah satu-satunya oknum yang berhak marah karena kemarahan-Nya adalah
kemarahan yang tidak pernah salah. Karena semua emosi, tindakan, kelakuan dan
perbuatan Allah harus selaras, komprehensif, sikon dan harmonis sepenuhnya.
Allah yang tidak mungkin salah marah itu juga adalah Allah yang tidak marah.
Mengapa seseorang marah?
Karena dia sudah terpojok, karena tidak ada jalan lain yang bisa ditempuh, maka
dia marah. Marah membuktikan dia sudah tidak berdaya. Anak kecil mudah marah,
tetapi orang yang banyak pengalaman tidak mudah marah karena dia tahu tidak
perlu meggunakan cara marah.
(diambil dari buku "Iman
pengharapan dan kasih dalam krisis" - Pdt. Dr. Stephen Tong)
Langganan:
Postingan (Atom)