Kamis, 04 April 2013

Konsep Mengenai Waktu (1)

Pertama, Waktu adalah hidup; berapa panjang hidup kita itulah seberapa panjang waktu kita; selesai hidup kita selesai pula waktu kita; berhentinya eksistensi kita ditentukan berhentinya waktu yang ada pada kita. Kalau kita benar-benar mencintai diri kita sendiri, cintailah waktu yang ada pada hidup kita sendiri; apa yang dapat kita kerjakan sekarang, jangan tunda sampai besok; apa yang bisa kita pelajari di masa muda, jangan sampai tua. Berapa banyak orang yang menyesali hidupnya; mengeluh karena tidak mungkin memutar kembali (mengembalikan) sejarah atau waktu yang sudah lewat. Penyesalan merupakan suatu kesedihan yang perlu kita prihatinkan, tetapi kita tidak mempunyai daya apa-apa untuk menolong , karena penyesalan berarti mengakui ketidakberdayaan diri kita yang berada di dalam keterbatasan. Agar hidup kita tidak penuh penyesalan, kita harus cepat-cepat mengerjakan apa yang Tuhan inginkan kita kerjakan sekarang.

(diambil dari buku "Waktu dan Hikmat" - Pdt. Dr. Stephen Tong)

Selasa, 02 April 2013

Bagaimana Menghitung Hari-hari Kita? (4)

Keempat, membagi-bagikan waktu. Ini berarti kita harus secepatnya memberikan atau membagi-bagikan kepada lebih banyak orang segala sesuatu yang kita miliki. Jikalau kita memiliki sesuatu dan kita memonopolinya hanya untuk diri kita pribadi, maka kita akan mati dan apa yang kita miliki itu akan dikuburkan bersama diri kita. Tetapi jikalau kita rela membagi-bagikannya kepada orang lain, sehingga orang  lain juga mendapatkanya, maka lebih banyak orang di dunia ini mendapatkan manfaatnya atau berkat dari Tuhan.

(diambil dari buku "Waktu dan Hikmat" - Pdt. Dr. Stephen Tong)

Senin, 01 April 2013

Bagaimana Menghitung Hari-hari kita? (3)


Cara menghitung kali. Bagaimana kita menghitung atau menggunakan waktu dengan cara kali? Dengan melakukan lebih dari satu pekerjaan dalam waktu yang bersamaan. Dr. Lie Sen Chang. seorang profesional teologi dari sebuah sekolah teologi di boston memberi kesaksian, bahwa setiap pagi sambil berolah-raga selama kira-kira setengah jam dia mendoakan kira-kira 70 orang. Inilah cara menggunakan waktu dengan sistem kali. Orang bijaksana yang sudah terlatih dapat melakukan hal seperti ini. Kita dapat melatih diri bagaimana dalam waktu yang terbatas bisa mengerjakan pekerjaan yang lebih banyak. Mary Slassor, seorang wanita utusan misi yang dikirim ke Afrika, setelah meninggal dunia harus digantikan tiga orang laki-laki untuk meneruskan pekerjaannya. Ia tahu bagaimana menggunakan waktu; dia bisa menggunakan hidupnya yang singkat, beberapa puluh tahun, untuk melakukan banyak hal, bagaimana dalam waktu singkat uangnya bisa berlipat ganda, Tetapi, kita perlu memikirkan hal lain disamping uang; bagaimana kita meningkatkan hidup, menegakan karakter dan kepribadian, serta menumbuhkan kerohaniaan dan iman kita dengan cara mengalikan waktu kita. Kita bisa melipatgandakan penggunaan waktu kita yang terbatas; bagaimana memakai waktu yang sedikit untuk mencapai hasil yang terbesar, yang bernilai kekal. Jangan kita membuang waktu, kesempatan, dan segala sesuatu yang sudah Tuhan berikan kepada kita! kita harus bertanggung jawab melipatgandakan segala kemampuan, sehingga tidak menyia-nyiakan waktu dan anugerah Tuhan.

(diambil dari buku "Waktu dan Hikmat" - Pdt. Dr. Stephen Tong)

Bagaimana Menghitung Hari-hari kita? (2)


Cara menghitung kurang. Orang bijaksana bukan saja memikirkan hidupnya bertambah, tetapi lebih memikirkan setiap tahun hidupnya sudah berkurang satu tahun. Ibu saya pada malam hari sering menyanyikan sebuah lagu, "Hidup sudah berkurang satu hari, kewajibanku sudah berkurang satu hari" Hidupnya setiap hari dianggap sebagai kesempatan menjalankan kewajiban, membimbing anak-anaknya di dalam jalan Tuhan. Pada waktu berjumpa dengan Tuhan dia pun merasa lega, karena dia sudah menjalankan kewajibannya dengan bertanggung jawab kepada Tuhan. Setiap tahun kita mengganti kalender berarti kita sudah lebih dekat ke kubur satu tahun. Setiap hari kita merobek penanggalan kita, berarti hidup kita sudah berkurang satu hari. Dengan  pikiran demikian, kurang kita akan menjadi orang yang bijaksana.

(diambil dari buku "Waktu dan Hikmat" - Pdt. Dr. Stephen Tong)

Bagaimana Menghitung Hari-hari Kita (1)


Ada empat  cara menghitung waktu sesuai dengan metematika. Pertama, cara tambah. ini adalah cara menghitung waktu dari orang-orang yang tidak suka berpikir, yang tidak berpengetahuan, dan yang tidak bijaksana. Anak-anak kecil biasanya mempunyai cara ini. Misalnya, waktu tahun baru atau hari ulang tahunnya. seorang anak kecil merasa senang karena umurnya bertambah, karena merasa sudah lebih besar. Tetapi orang tua biasanya tidak senang melewati tahun baru atau ulang tahunnya, karena mereka tidak suka memikirkan kapan mereka akan mati, malah banyak yang merasa takut, karena mengetahui sudah lebih dekat kepada hari kematiaanya. Celakalah kita jikalau setiap hari umur kita bertambah, tetapi tanpa isi atau makna yang ditambahkan kedalam hidup kita. Hari-hari hidup kita akan terus bertambah, tetapi biarlah juga kebijaksanaan, moral, dan iman kita pun bertambah, menjadi arti atau makna di dalam hidup kita. Ada orang yang umurnya panjang sekali, tetapi hidupnya kosong. Di antara pemimpin-pemimpin agama seperti Musa, Abraham, Budha, Yesus Kristus, Mohammad; dan diantara filsuf-filsuf besar seperti Plato, Sokrates, dan Aristoteles, yang paling berumur pendek adalah Yesus Kristus; Dia mati pada umur kira-kira 33 1/2 tahun. Tetapi hidup manusia tidak bergantung pada panjang pendeknya umur, yang penting adalah bobotnya.

(diambil dari buku "Waktu dan Hikmat" - Pdt. Dr. Stephen Tong)

Orang Yang Suka Marah (2)


Marah hanya bisa membereskan diri sendiri tapi tidak bisa membereskan orang lain. Seorang guru yang agung adalah guru yang tidak gampang marah. Seorang ayah yang berhasil dalam mendidik anak tahu kapan dia harus marah dan kapan dia tidak perlu marah. Banyak orang yang tidak mengerti akan prinsip ini gampang diperbudak emosinya sendiri. Kalau dia sudah tidak tahan, maka dia meledakkan amarahnya dan merasa lega. Akhirnya amarah itu hanya menyelesaikan diri sendiri, tidak menyelesaikan orang lain.Kalau seseorang sudah marah, anaknya dipukul setengah mati, benda-benda dirusak. Semua dianggap salah, hanya dirinya yang tidak salah. Akibatnya, bukan saja sang anak tidak memperoleh didikan, ia malah belajar memakai cara yang sama jika sudah besar.

Jadi yang perlu adalah belajar, marah tidak berguna. Marah hanya menyelesaikan kerisauan yang ada di dalam dirimu lalu melemparkannya kepada orang lain. Janganlah marah kecuali marahmu adalah amarah yang berada di dalam pengudusan Roh Kudus, bagi kemuliaan Tuhan Allah.

(diambil dari buku " Iman pengharapan dan kasih dalam krisis" - Pdt. Dr. Stephen 

Orang Yang Suka Marah (1)


Marah tidak pernah menjadikan dirimu stabil. Tuhan kita adalah Tuhan yang tidak gampang marah. kalau Tuhan kita marah, adalah marah yang sesuai dengan keadilan yang tidak mungkin bersalah. Itu yang disebut kemarahan ilahi, kemarahan yang kudus. Holy wrath of God, the wrath of God according to the truth, the wrath of God is based on His righteousness and His holy wrath. Kemarahan Tuhan adalah kemarahan yang suci, kemarahan yang wajar, kemarahan yang adil. Tetapi Dia tidak mudah memuntahkan kemarahan-Nya. Mempelajari filsafat marah adalah hal yang penting sekali. Allah adalah satu-satunya oknum yang berhak marah karena kemarahan-Nya adalah kemarahan yang tidak pernah salah. Karena semua emosi, tindakan, kelakuan dan perbuatan Allah harus selaras, komprehensif, sikon dan harmonis sepenuhnya. Allah yang tidak mungkin salah marah itu juga adalah Allah yang tidak marah.

Mengapa seseorang marah? Karena dia sudah terpojok, karena tidak ada jalan lain yang bisa ditempuh, maka dia marah. Marah membuktikan dia sudah tidak berdaya. Anak kecil mudah marah, tetapi orang yang banyak pengalaman tidak mudah marah karena dia tahu tidak perlu meggunakan cara marah.

(diambil dari buku "Iman pengharapan dan kasih dalam krisis" - Pdt. Dr. Stephen Tong)